Seorang mata-mata diutus untuk menentukan kapan Granada bisa ditaklukan. Ditemukanlah seorang anak yang sedang menangis tersedu memegang busur panah. Dengan penuh rasa penasaran sang mata-mata bertanya, “kenapa Kau menangis, Wahai Bocah?”. Sang Anak menjawab singkat, “Anak panahku meleset.”. “Tidak bisakah Kau mencoba lagi tanpa menangis?” timbal kembali Sang Mata-mata penasaran. “Akankah musuhku kelak akan memberikan kesempatan kedua?” ucap Sang Anak.

Terhentak hati Sang Mata-mata dan memberitahu Kerajaan Kastila bahwa hari ini bukanlah momentum yang tepat. Mereka berfikir jika anak kecil saja memiliki mental sedemikian rupa, bagaimana dengan para pemuda dan orang dewasa yang mendidiknya.

Selang beberapa tahun kemudian, Sang Mata-mata kembali melakukan observasi. Didapatilah Pemuda yang sedang menangis dan ditanya, “Kenapa Kau menangis, Wahai Pemuda?” tanya penuh penasaran Sang Mata-Mata. “Kekasihku Meninggalkanku.” Ucap Pemuda.

Dengan penuh kegirangan Sang Mata-Mata melapor kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella bahwa inilah momentum yang tepat untuk meruntuhkan Granada. Mulai saat itu, peradaban Islam yang canggih dan mewah itu tidak lagi bernilai. Abu Abdullah, Raja Granada hanya mampu memandang dan mengenang bekas kerajaannya dari Gunung Raihan.

Akhi, kisah demikian mungkin bak cerita masa lalu yang sulit Kita gambarkan pada hari ini. Cukup dengan kalimat, “itukan dahulu, hari ini ya beda zaman.” Seakan menganulir seluruh ibroh yang bisa Kita pelajari untuk diterapkan sekarang. Bahkan, Materi Ghazwul Fiqr yang menjadi makanan pokok Anggota Biasa 1, lebih Kita sikapi seperti cucoklogi teori konspirasi umat islam yang paranoid terhadap penjajahan barat.

Namun, tak lama dari zaman Kita, HAMKA menggambarkan degradasi moral dalam sebuah bukunya. Dulu, sempat gempar di negri Kita seorang pemuda yang membunuh pemuda yang berani mengajak interaksi dengan adik perempuannya. Padahal dulu, interaksi non mahram adalah bentuk penghinaan terhadap keluarga sang perempuan. Laki-laki wajib menikahi terlebih dahulu perempuan dengan mahar yang pantas untuk bisa berinteraksi. Sekarang, jangankan sekedar interaksi, berzina pun tidak ada sedikit geming dari kedua keluarga.

Kisah-kisah komparasi diatas semestinya cukup menjadi bukti bagi Kita untuk segera sadar bahwa Ghazwul Fiqr lebih mematikan dibandingkan perang fisik. Kita bisa melihat standar-standar yang telah digariskan agama mulai memudar. Kita tangguh ketika standar adab dan ilmu lebih diperhatikan dibanding sekedar harta atau rupa. Dan sebaliknya, kita lemah ketika mengutamakan standar dunia. Namun, semua itu telah meresap dalam relung hati Kita dengan kalimat, “Muslim harus Kaya, karena harta mampu mengambil perhatian masyarakat banyak.”. Tidak salah. Tapi tidak sepenuhnya benar.

Akhi, sudahkan keikhlasan menjadi standar kehidupan Kita? Atau Kita masih menjadikan, maaf, harta tahta dan wanita untuk menilai standar pengorbanan?

Lalu, bagaimana dengan proyek dakwah islam rahmatan lil ‘alamin, menanamkan nilai islam disetiap sendi kehidupan, padahal nilai itu belum tertanam dihati Kita sendiri?

Akhi, sayangnya, kisah seorang anak yang menangis atau pemuda yang menghajar pemuda tak beradab diatas tidak terjadi kebetulan. Nilai mulia yang tertanam dihati mereka perlu proses panjang yang tidak bisa Kita jadikan lelucon. Mari sedikit Kita bertafakkur bagaimana Muhammad Al-Fatih memilih pasukan tempurnya. Istiqomah tahajjud, rawatib, tilawah, menjada adab dan lain sebagainya. Bagaimana Nabi mengancam membakar rumah sahabat yang sengaja sholat dirumah tanpa udzur syar’i. konkret dan detail. Mereka tidak hanya memperhatikan daya beli, indicator kesehatan atau lama pendidikan, namun mereka sudah focus memperhatikan bagaimana interaksi pribadi masyarakat dengan Tuhan.

Akhi, ada sedikit hasil tafakkur ana yang ingin disampaikan sebelum paragraph terakhir. Ketika Nabi bilang ke Bilal, “arihna bi shalat/ istirahatkan Kami dengan shalat.” Dan ketika menghubungkan salahsatu ayat Al-insyirah “dan jika Kamu telah selesai dalam suatu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.”. Terbayang bagaimana etos ibadah para sahabat dahulu dibanding Kita yang mesti healing sepenuh hari padahal amal tak seberapa.

Ikhwah, tidakkah cukup system pengkaderan Kita yang memperhatikan amal yaumiyah antum mulai dari bangun tidur hingga bangun lagi untuk diterapkan dengan sempurna? Jika Kita merasa hal ini tak perlu diperhatikan, lalu apalagi yang Kita harapkan dari Organisasi Kita ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *