إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ(Ar-Ra’d : 11) Selama ini, Kita berfikir bahwa perubahan akan terwujud dengan usaha yang Kita perjuangkan. Usaha dan keringat Kita yang menyebabkan setiap perubahan itu bisa terjadi.

Sehingga tak jarang ayat ini menjadi angin lalu karena hasil belum terwujud. Ikhwatifillah, ayat ini secara teks membahas tentang dinamika sebuah kaum. Tentu yang diharapkan sebuah komunitas adalah menjadi komunitas yang terbaik dibandingkan komunitas yang ada.

Menjadi komunitas yang setiap individunya merasa aman dan nyaman berada didalamnya. Menurut At-Thabari ayat ini menjelaskan bahwa sebetulnya manusia berada dalam keadaan nikmat yang Allah karuniakan.

Nikmat-nikmat ini akan berubah dan tanggal karena perbuatan manusia tersebut yang zalim terhadap diri mereka sendiri atau bertikai dengan yang lainnya. Karena penulis menyadur dari website islam.nu.or.id, diangkatlah sebuah contoh dimana perang uhud adalah representasi kaum yang mengubah nikmat yang Allah karuniakan.

Dalam perang uhud, strategi Nabi adalah kenikmatan menuju kemenangan. Namun, karena kemaksiatan diantara pasukannya yakni pasukan panah yang turun dari gunung uhud tanpa perintah nabi, hancurlah strategi yang telah sebelumnya direncakanan.

Perbedaannya terlihat sepele, biasanya Kita memiliki pola pikir perubahan dari nol dengan usaha, dalam tafsir ini malah Kita sudah berada diposisi yang diharapkan namun Kita yang merusak semuanya sendiri. Begitupun Organisasi Kita, Allah SWT sudah memberikan Kita posisi puncak nikmat.

Namun jikalau Kita merasakan kehambaran, disorientasi dan kebingungan dalam kebersamaan ini, mari Kita cek ulang diri Kita atau saudara seperjuangan Kita barangkali ada kemaksiatan yang membuat Allah rubah kenikmatan yang telah Kita nikmati sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *