Dulu, berbaris kurang lebih 40 orang pengurus yang akan saling bahu membahu mengejar visi yang sama mengontrol kekuasaan yang berlangsung di Garut dan meregenerasi kepengurusan.

Cukupkah 40 orang pengurus untuk mengejar visi? Tentu tergantung skala lingkup visi tersebut.

Namun, untuk berdiri lantang dihadapan penguasa, kaki tangan Kita gemetar tak karuan. Jangan berfikir jauh, berbicara via media Saja, bukan soal resiko, Malas. Kita terlalu malas untuk melakukan hal yang tak manfaat untuk Kita pribadi.

Apa untungnya? Tak perlu Kita berfikir soal orang lain toh kebutuhan pribadi juga belum terpenuhi. Stigma ini yang muncul dalam fikiran Kita.

Referensi buku Kita isinya tak lain kisah-kisah pengorbanan para pahlawan, namun paradigma Kita tak jauh dari profil pecundang. Begitu Buku pun benda asing.

Pembicaraan Kita tak lain dan tak bukan tak jauh dari isi perut dan bawahannya, sambil tertawa riang dan bangga.

40 orang jumlah pengurus, menurut penulis, ini bukan organisasi kecil. Ditambah lagi banyak anggota-anggota baru yang mulai terlibat.

Namun Kita belum siap. Cukup saja menjadi organisasi yang “udah kita-kita aja”. Tambah sedikit anggota akhwat, dipilih-pilih, diperebutkan. Sedikit ada bantuan, langsung klaim.

Bukan Kita tak membesar, memang kondisi Kita yang tak akan mampu jika menanggung amanah di organisasi besar.

Semoga kedepan Allah memberikan generasi yang lebih tangguh dan mampu menanggung seluruh beban dengan penuh keikhlasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *