Kita semua, tanpa terkecuali, adalah orang yang merugi.

Begitu Allah SWT bilang dalam surat yang pendek, 3 ayat teksnya.

Namun, bodohnya Kita, tak merasa atau bahkan tak mau tahu.

Lebih dari itu, Kita mengolok-olok waktu dengan kesia-siaan atau malah dosa.

Seakan ancaman Allah yang diwahyukan, hanyalah teks yang berlalu tanpa makna.

Jika dalam perdagangan, Kita tak tahu aturan.

Tak tahu apa untung apa rugi.

Tak tahu mana halal, syubhat atau haram sekalipun.

Yang penting terlihat berdagang, terlihat hidup layaknya manusia hari ini hidup.

Tapi Allah berikan kesempatan bagi Kita untuk bangun dan sadar.

Untuk menerka, mengukur, menimbang lapangan dan zaman.

Jika Kita bersedia sejenak membaca dan merenungi 3 ayat ini.

Kawan, mari dengarkan dari hati Kita dengan Khidmat.

Bisikan Allah yang penuh dengan kasih sayang demi kewaspadaan.

Wal ‘Ashr

Demi Ashar, waktu yang sering digunakan untuk bersantai-santai oleh manusia Qurays dahulu, untuk menghitung laba rugi perdagangan.

Untuk membicarakan hal yang tak perlu dibicarakan, yang bahkan menimbulkan perkelahian.

Innal Insaana la fii Khusr

Sungguh, manusia mukallaf berada dalam keadaan merugi. Dalam hidup yang singkat dan menentukan yang abadi kelak.

Illal Ladzina ‘Aamanu Wa ‘Aamilusshalihat Watawa Sawbil Haq Watawa Sawbis Shobr

Kecuali, mereka yang beriman dan mengamalkan amal shalih dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.

Nah!

Disampaikan bahwa keuntungan Kita ada dalam keimanan Kita.

Namun, Iman tak akan cukup dan harus dibuktikan dengan amal Shalih Kita.

Namun, Amal Shalih tak akan pernah bertahan jika Kita melakukannya sendirian.

Karena jalan keistiqomahan berat medannya.

Kita perlu melaluinya bersama.

Harus Kita menjadi entitas yang tegas dalam kebenaran dan bersama dalam kesabaran, bukan ‘enggak enakan’ atau ‘bae kumaha urang’.

Namun, kebersamaan Kita harus dipersiapkan sebulat mungkin.

Tak mungkin Kita berjalan bersama,

Jika dalam kebersamaan itu  ada perbedaan tujuan yang bahkan kentara.

Atau bahkan tak mau berjalan,

Atau lebih parah, bertolak belakang.

Masih adakah dalam barisan Kita orang yang berbeda tujuan?

Atau ingin mengaburkan pandangan Kita hingga tak mampu menatap tujuan?

Supaya Kita menjadi entitas tanpa tujuan,

Yang hanya sekedar bersama dalam kesia-siaan,

Atau malah saling mencelakakan?

Jika demikian, bagaimana Kita membulatkan keuntungan Kita?

Dengan mengamalkan Watawa Sawbis Shabr,

saling mengingatkan dalam kesabaran.

Kawan, mari Kita melihat kembali alasan Kita berkumpul dalam barisan yang sama,

Mari Kita tatap kembali titik yang sedang Kita tuju.

Mari Kita ukur, timbang dan tetapkan jalan yang akan Kita lalui.

Jika sudah, mari Kita ingatkan satu sama lain, tentang jalan yang benar.

Mari kita ingatkan kesabaran dalam kerbesamaan.

DEMI TUJUAN KITA BERSAMA.

Jalan Kita menjadi entitas yang menjadikan iman sebagai dasar, amal salih sebagai bukti, saling menasehati untuk mengedepankan kebenaran dan tetap bersabar menghadapi rintang terjal berduri.

Menjadi Entitas Al-‘Ashr.

(dibuat untuk menyambut RAPIMDA PD GARUT 2020-2022)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *