Dakwah para nabi tidaklah sendiri, selalu ada sahabat yang Allah utus pula untuk membersamai kemanapun risalah itu pergi.

Dengan sahabat itulah beban para nabi sedikitnya bisa terkurangi, ada beberapa peran yang bisa didelagasikan.

Atau, sahabat itu memberikan semangat dikala sang nabi berada ditengah kegamangan hingga pendirian kian tangguh.

Namun, ada pula sahabat –atau lebih pantas disebut pengikut saja, yang malah memberikan kegamangan ditengah nabi berada ditengah kekalutan.

Maksudnya?

Mari kita simak dua kalimat yang diucapkan dua nabi yang berbeda dalam menghadapi kawannya.

Nabi Musa AS pernah berucap, “Inna ma’iya Rabbi sayahdiin” yang artinya “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku dan akan memberikan petunjuk.” ketika sedang berada ditengah kejaran fir’aun dan bala tentaranya.

Kalimat ini bukan sekadar untuk memotivasi diri sendiri yang sedang berada dalam kepanikan yang dahsyat.

Tetapi sebagai bentuk timpalan kepada pengikutnya yang termakan kepanikan, pesimisme dan egoisme pribadi yang ingin orang lain memiliki rasa panik dan pesmis yang sama dengan apa yang dirasakan pengikut bodoh ini.

Sebelum nabi mengatakan kalimat diatas, para pengikutnya mengatakan, “Inna lamudrokuun!” yang artinya, “Kita pasti tersusul!”

Perhatikan bagaimana pesimisnya pengikut Nabi Musa. Kalaupun termakan keyakinan akan tersusul, lalu mengapa tidak bunuh diri saja atau menyerahkan diri kepada fir’aun?

Mereka seperti sedang memakan buah simalakama, kembali dan menderita dibawah kekuasaan Fir’aun atau tetap mengikuti Musa dengan masa depan yang tidak tergambar dan hanya berharap pada keimanan sahaja?

Pada akhirnya, setengah-setengah, mereka tetap bersama Nabi Musa dengan pesimisme yang tinggi akan keselamatan mereka sendiri.

Ketika pesimisme mereka menyeruak dengan mengatakan “Kita pasti tersusul!”, maka Nabi Musa menimpali “KALLA!, Inna Ma’iya Rabbi Sayahdiin”, “Tidak akan mungkin! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, (dan) akan memberikan petunjuk!”

Pengikut yang ditolong saja sulit, hanya akan menjadi beban kelak diperjalanan. Hukum tersebut dapat Kita lihat ketika pengikut Nabi Musa sudah berada ditengah keamanan dari siksa fir’aun dan ditengah kenyamanan hidup, dengan mudahnya pindah keimanan mengikuti samiri yang tidak masuk akal menyembah patung sapi.

Keimanan mereka ringan seringan debu dalam hati yang tertiup angin kemudian terbang dan hilang sama sekali.

Berbeda dengan kalimat Nabi Muhammad SAW kepada sahabatnya, Abu Bakar RA, ditengah kegamangan yang memuncak.

Ketika berlindung di Gua Tsur pada saat berada dalam pengejaran Kaum Quraisy, jarak mereka dan musuh hanya terhalang sedikit celah batu.

Ketika itupula Abu Bakar terkena gigitan ular berbisa.

Tidak ada lagi selain pertolongan Allah saja yang bisa menyelamatkan nyawa mereka.

Maka Nabi berkata kepada Abu Bakar, “Laa Tahzan, Innallaha Ma’ana.”, “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama Kita.”

Sedikit saja bedanya tapi maknanya memang mengerikan. Jika Nabi Musa mengatakan , “Tuhanku Bersamaku.” Kepada pengikutnya. Nabi Muhammad mengatakan, “Allah bersama Kita.”

Dalam kasusnya Nabi Musa, apakah Tuhannya bersama pengikutnya pula? Allahu A’lam.

Tetapi pada kasus Nabi Muhammad, Allah bersama mereka. Jika dalam kegamangan saja mereka masih bersedia membersamai, maka bukan hal yang diragukan lagi keimanan mereka menghadapi kondisi apapun.

Dan setelah itu, sahabatnya betul-betul menjadi pengikut setia dengan ada ataupun tidak ada Nabi.

Hal ini terbukti ketika khulafaur Rasyidin memimpin ummat, Islam semakin jaya dan luas teritorialnya.

Sejauh ini, misi apa yang sedang Kau bawa? Dan siapa yang membersamaimu? Pengikut Nabi Musa kah? Atau sahabat Nabi Muhammad?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *