Kalimat ringan namun sangat berarti jika benar-benar diucapkan Bung Karno. Kala itu Bung Karno didapati sedang demam tinggi, namun desakan semangat para pemuda untuk segera memerdekakan Indonesia juga jauh lebih tinggi. Maka dengan itu tercatatlah nama Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia.

Di episode perjuangan yang lain, ada seorang pemuda yang tubuhnya digerogoti penyakit sehingga yang tersisa adalah api semangat yang tak hanya menyala namun berkobar melenyapkan nyali para penjajah. Dialah Jenderal Soedirman. Ditengah hutan dengan tandu ia berjalan, menyalakan semangat juang untuk tentara agar terus bergerilya dan di umur 34 tahun beliau menutup usia.

Begitulah sejatinya perjuangan, mengedepankan kepentingan bersama sehingga terkadang hak pribadi terenggut tanpa sisa. Begitulah perjuangan, yang pada akhirnya yang menang adalah Kita semua.

Jika merujuk perkataan KH. Rahmat Abdullah, perjuangan dakwah itu laiknya cinta. Merenggut semua yang kita miliki. Namun dengan dasar cinta itu, semua yang Kita korbankan tidaklah menimbulkan penyesalan bahkan menambah kecintaan Kita.

Begitulah bagaimana para pejuang menggambarkan segala bentuk perjuangan yang mereka tekuni untuk memberikan yang terbaik bagi agama dan negara. Mereka menjadikan perjuangan dakwah sebagai prioritas. Maka, bagaimana dengan kita? Yang berjuang dikala waktu senggang. Itupun jikalau mood nya sedang mendukung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *