Kegiatan sarat kemaksiatan yang terjadi beberapa hari lalu sempat menggemparkan jagat maya, tak lepas dari komentar KAMMI. Hal itu terjadi lantaran terdapat penari erotis yang mewarnai acara yang digelar di salah satu kecamatan di Garut selatan dalam event motor trail.

Selain tarian maksiat yang mewarnai acara, jumlah peserta yang hadir membludak menyebabkan kemacetan yang tak terhindarkan. Hal ini yang diadukan oleh penduduk serta pengguna jalan disekitar lokasi kejadian.

Peristiwa seperti ini bukan lah pertama kali di Kab. Garut, melainkan kejadian yang hampir bahkan sering terjadi. “Ini hanyalah satu dari banyak kejadian yang terekam oleh awak media.” Ujar Pian Sopian, Kadep Kebijakan Publik KAMMI Garut, yang sebelumnya sempat mengkritisi acara serupa dalam rangakaian Garut Festival tepat sebelum ramadhan seperti ini.

“Pada tahun yang lalu persis sama ada kejadian seperti ini dengan nama Garut Culture Festival yang sama sekali tak mencerminkan kultur masyarakat Garut dan terjadi sebelum bulan Ramadhan yang menurut beberapa sumber, inisiator kegiatannya merupakan salah satu kerabat bupati.” Terang Pian. Hal ini tidak hanya meresahkan penduduk sekitar lokasi acara melainkan hal ini mengusik penduduk muslim sekabupaten Garut.

“Setidaknya untuk tahun ini ada lagi kegiatan yang mengusik ketentraman beragama di Kabupaten Garut yang diwakili oleh kegiatan ini di tengah umat muslim diseluruh dunia sedang gagap gempita menyambut bulan suci Ramadhan.” Lanjut Pian mewakili umat islam yang resah dengan kejadian tersebut.

Tindakan tegas perlu dilakukan terhadap penyelenggara acara supaya mendapatkan efek jera dan menjadi contoh bagi yang lain. “Tolong lah ya, Kita hidup di Kabupaten Garut yang terkenal dengan religi. Jangan sampai nama Garut ini terus digerus dengan kegiatan-kegiatan amoral yang merusak citra Garut menjadi Kota Lacur. Kepada pihak berwajib dari eksekutif maupun penegak hukum tolong tindak tegas jangan sampai hanya di media saja berkoar tanpa ada aksi nyata. Karena efek pengabaian dari kejadian ini adalah munculnya kejadian-kejadian serupa yang akan mendatangkan azab di kota seribu pesantren ini.” Tutup Pian.

KAMMI Sindir Kinerja Kepolisian

Hampir seluruh acara yang melibatkan keramaian memerlukan izin dari pihak bersangkutan serta prokes yang perlu dipatuhi sebagaimana mestinya. Namun, acara keramaian yang melibatkan 3000 orang peserta lolos dari izin tersebut. Kadep Kebijakan Publik, Pian Sopian, berujar “hal ini adalah salahsatu bukti bahwa izin kegiatan dan prokes hanya berlaku bagi pihak yang bersebrangan dengan pemerintah.”. hal ini bercermin dari ditangkapnya salah satu ulama tataran nasional yang disebabkan keramaian akibat prokes. “Kemarin Presiden hadir diacara yang melibatkan keramaian tidak dipanggil kepolisian, tapi IB HRS sampe masuk penjara.” Lanjut Pian.

Penindakan dari acara ini belum mencapai klimaks oleh Polres Garut. “Masih ada kesempatan bagi Kapolres Garut untuk membersihkan citra negatif masyarakat terhadap kepolisian khususnya di Garut yaitu menindak acara ini sampai tuntas!” Tutup Pian.

KAMMI Garut Pertanyakan Peran Satgas Covid

Tentu, peran yang harus terlibat dalam penanganan event ditengah covid dan sarat kemaksiatan ini tidak hanya aparat serta tokoh agama, melainkan satgas Covid Garut yang semestinya melarang kegiatan tersebut. Namun, keberadaan satgas tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap mitigasi penyebaran covid di Kab. Garut. Bukan tidak mungkin akan muncul Klaster Event Maksiat ditengan disdik sedang mengkampanyekan sekolah tatap muka.

“Koordinasi pemerintah seharusnya kolektif kolegial, jangan sendiri-sendiri kayak gini. Kalo memang pencegahan covid itu memang penting seharusnya kejadian yang tidak terduga ini bisa terdeteksi sebelum acara berlangsung sehingga pencegahan kerumunan dan protokol bisa dilakukan sebagaimana mestinya.” Ujar pian dilain kesempatan.

“dampak penyebaran covid ini bukan hanya peserta event maksiat saja, tapi kerabat keluarga yang tidak bersalah pun akan ikut kena. Saya bilang seperti ini bukan hanya untuk event ini saja ya. Tapi untuk seluruh dinamika masyarakat Garut yang semakin hari tindak pencegahan covid semakin berkurang. Dulu sempat ada patroli malam, pengumuman keliling dari puskesmas setempat, bansos untuk keluarga tak mampu dan sekarang nihil.” Tutupnya.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *