Hasil rapid test yang tidak akurat membuat masyarakat Garut semakin resah. Kammi beranggapan, langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut melakukan rapid test hanya buang-buang anggaran dan meresahkan warga.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Daerah Garut sangat Kecewa dengan kinerja Dinkes tentang informasi, terkait antisipasi dan pencegahan virus Corona serta Hasil Rafid test Kepala SKPD Serta Wartawan yg di lakukan tes namun Terjadi elor. sejumlah pegawai dilingkungan Sekertaris Daerah Kabupaten Garut bersama sejumlah wartawan melakukan rafid test di lapangan Setda. ditemukan 7 orang reaktif positif Covid-19 namun pada akhirnya Jadin Non reaktif.

Ketua Umum KAMMI Garut Riana Abdu Azis meyampaikan Harga terhitung satuan 290 Menurutnya, hasil rapid tes seperti “prank” saja. Hari ini dikatakan positif besoknya sudah berubah lagi.

Jadi semacam di prank. Dinyatakan positif eh tapi bohong,” kata dia. Jadi, menurutnya, lebih baik hentikan saja rapid tes ini. Ternyata hasilnya tidak efektif juga.

“Sudahlah ga efektif. Jangan buang anggaran. Lebih baik pake bantu warga yang terdampak,” alat rapid tes yang digunakan Pemkab Garut dua-duanya didatangkan dari China. Menurutnya, proses pengadaan kedua alat itu pun tak jelas

Bagaimana lelangnya saja tak jelas. Dinkes Garut hanya melakukan penunjukkan Pemkab Garut harus lebih serius dalam penanggulanagan Covid-19 ini. Pasalnya, menyangkut urusan nyawa manusia

Ini urusan nyawa manusia. Jangan asal-asalan mengeluarkan pernyataan. Hari ini positif besol jadi negatif,”

Dinkes Garut harus terbuka inti persoalan sebenarnya di mana? Apakah alatnya yang jelek? atau tidak bisa cara baca hasilnya?

“Jadi jangan asal-asalan memvonis seseorang soal corona,”

Alat rapid test itu ada yang dari Pemprov Jabar dan Pemkab Garut beli melalui jalur pengadaan. Jadi, kata dia dua alat rapid tes itu sama dari China namun mereknya berbeda

Menurutnya, peristiwa seperti ini bisa terjadi pada semua alat. Ia menngungkapkan ada sejumlah kasus yang tadinya sudah di vonis positif malah jadi negatif.

“Itu istilahnya positif palsu dan negatif palsu,” ucapnya. Kenapa Dinkes tidak meyiapkan Atisipasi seperti itu

Hasil tes swab di beberapa daerah di wilayah Priangan Timur baru bahkan dapat diketahui setelah rata-rata 7-14 hari spesimen pasien dikirimkan ke Labkesda Jabar di Bandung.

Ia berharap ke depannya hasil tes swab dapat dengan cepat diketahui. Sehingga penanganan akan lebih maksimal.

“Saya minta proses tes swab bisa cepat, sehingga bisa antisipasi. Semakin lambat tahu, hasil pemeriksaan akan semakin banyak (penularan) dan Garut harus puya untuk tes swab trsebut

Informasi terkait virus Corona yang kurang update juga dinilai menjadi salah satu sebab munculnya kepanikan. “Karena itu menurut kami pemerintah ini penting (update informasi soal Corona dan Benar” mengunakan anggaran Covid itu sesuai kebutuhan janagn sampai Jadi proyek semata), karena leading sector-nya adalah Dinas Kesehatan, menurut kami, humas jangan diposisikan hanya tukang bikin rilis saja, tukang bikin berita saja pada saat ada konferensi pers,” kata Ketua Sosmas KAMMI Garut

Nurul sosmas Garut dinkes harus lebih gencar lagi dalam menginformasikan dan mengedukasi masyarakat terkait Corona. Contohnya, ada akun media sosial hingga website yang menginformasikan secara lengkap terkait Corona.

Di sisi lain Gugus Tugas Penanganan Covid Kab Garut kami rasa dalam penentuan ODP PDP OTG
Dataya tidak Falid Dalam Menentukanya masa baru di tentuin sudah Ada yg mninggal.

Menurut nurul, jika sejak awal Dinkes Garut gencar meng-update informasi terkait Corona maka tidak ada kepanikan di masyarakat, salah satunya terkait pembagian masker. Terlebih banyak hoax beredar tanpa langsung dikonfirmasi kebenarannya.

“Kalau saja dari awal ini diantisipasi, maka orang tidak akan brprasangka tidak baik tentang informasi covid-19 Ini karena informasi yang tidak nyambung, hoax banyak beredar sehingga melahirkan kepanikan. Karena itu lah saya mengatakan bahwa jangankan masyarakat umum, kami saja ini terpengaruh dengan informasi yang tidak jlas.

Jejaringan pengamanan sosial yang tidak benar” di terapkan oleh pemerintah bayak begal yang melancarkan aksinya dan maling Maling yang mresahkan masyakat di sisilain pemerintah Pusat dan daerah membebaskan Tahanan” ya pantas Merajarela.

Selain itu PSBB sudah di terapkan tapi maling, dan pngamanan sosial tidak di mankan malah keaamnan oleh babimnas Babinsa atau yg brtugasya malah tidak di jalankan pokus di Psbb yang mnurut kami PSBB Garut Hanya Bercanda Saja Masih terlihat Kemacetan dan kerumunan di Garut
Ada himbauan juga di suruh pake masker namun pmerintah tidak memberi maskerya padahal jelas ada di Dinkes barangya.

Jangan sampai Haya terpokus terhadap Covid saja membiarkan masyarakat resah. Dengan Begal maling kejahatan d masyarakat.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *